Keutamaan Lailatul Qadar

 KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

(Oleh: Taubatan Nasuha)


Lailatul qadar sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, penuh makna dan mengandung hikmah serta dambaan seluruh ummat Muslim untuk menyapanya. Seingga tidak asing lagi jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan ramadhan umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba untuk bisa meraih rahasia malam lailatul qadar tersebut. Lailatul qadar terdiri dari 2 suku kata yaitu lail yang artinya malam, dan kata qadar yang memiliki beberapa makna, diantaranya:

1. Penetapan Allah atas keadaan perjalanan hidup manusia, pada malam qadar Allah menetapkan bagaimana lika-liku rentetan warna-warni kehidupan manuisa selama satu tahun ke depan terjadi pada lailatur qadar, dan penetapan turunnya Al-Quran, hal ini seiring dengan Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ad-Dukhan (44): 3, yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam yang diberkahi dan sungguh Kami-lah yang memberi peringatan.

2. Kemuliaan, malam tersebut memiliki keagungan yang tiada tara, malam yang dipilih untuk diturunkannya Al-Quran serta titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih, malam yang tepat untuk meluapkan segala hajat dan keinginan hati (heart’s desire) yang akan menaruh seribu harapan untuk terkabul seketika ataupun dimasa yang akan datang 

3. Cool (adem), Malam itu dihiasi oleh para Malaikat bahkan dihadiri oleh leader of angels Malaikat Jibril turun dari langit ke bumi sehingga malam tersebut menjadi adem, nyaman, lembut penuh hikmah bagi alam semesta, terkhusus kepada jiwa yang menghidupkan dan mendapatkan kemuliaan itu dengan segala kerendahan hati bersimpuh sujud, berzikir, pada Tuhannya.

4. Lebih baik dari seribu bulan, malam qadar tidak hanya menyimpan 1000 kebaiakan di dalamnya, namun lebih dari seribu bulan sehingga siapa saja Insan yang melakukan amal kebaikan di malam itu maka laksana ia beribadah kurang lebih selama 84 tahun.

      Hakikatnya  tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar kecuali Allah ‘Azza wajalla. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan lewat lisannya beliau memberi wejangan motivasi pada ummatnya: diriwayatkan dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

Artinya :  “Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” (Muttafaqun ‘alaihi)

Termaktub dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah radliyallahu anha, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ 

Artinya :  “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” 

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

Artinya :  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

10 terakhir Ramadhan sarana persinggahan lailatur qadar, namun lebih jelas lagi sebagi qarinah (pertanda) untuk memudahkan ummatnya, maka rasa penasaran itu disederhanakan lagi, yakni kemuliaan malam qadar itu ada pada malam ganjil. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

Artinya :  “Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)” (HR. Al-Bukhari).

Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan Lailatul Qadar. Menurut keterangan Fathul Qarib, Hasyiah Al-Bajury, dan Fathul Muin beserta Ianatut Thalibin, Imam Syafii (105 H-204 H) Ulama besar spesialis fiqih sekaligus rujukan madzab manusia dimasa kini menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, lebih-lebih pada malam ganjilnya. Beberapa ulama terkemuka menyatakan bahwa ada kaidah atau formula untuk mengetahui peristiwa lailatul qadar itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan as Syadzili semenjak usia baligh beliau selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuaikan dengan kaidah ini.

Menurut Imam Al-Ghazali beserta ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin yang dikarang oleh Abu Bakar Syatho’ juz 2, hal. 257, bahwa rumus untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dimulai puasa bulan Ramadan:

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر

فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين

أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين

أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين

أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين

أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين

قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Berikut penjelasan dari keterangan dan pengalaman Imam Al Ghozali yang di maksud.


1. Jika awal ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

3. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

4. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23 (I’anatutthalibin, jilid 2)

Berdasarkan keterangan yang akurat di atas serta penjelasan dan pengalaman Ulama yang telaten ini , tentu akan memberikan hikmah terbaik kepada kita semua selaku kaum awam untuk senantiasa meningkatkan kesempurnaan ibadah di malam-malam yang di maksud. 

Menghidupkan lailatur qadar dengan mengisi ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat malam, baca quran, zikir, istighfar, serta memperbanyak doa. ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasul jika saya mendapatkan lailatul qadar itu maka apa yang harus saya perbuat ? Rasul menjawab perbanyaklah membaca doa:

اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُـحِبُّ العَفْوَ عَنِّي 

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku

Lalu apakah peristiwa Lailatul Qadar itu seperti yang terngiang dan berbisik seketika ditelinga kalangan orang banyak yang mengasumsikan dengan berbagai radar bagai magic ? Apakah seperti tunduknya pepohonan, aliran sungai berhenti seketika, hembusan angin sepoi-sepoi mendinginkan bulu roma ? tidak ! sama sekali bukan begitu, malam qadar itu adalah malam yang tenang, nyaman, lembut penuh ketentraman kondisi alam tidak hujan dan tidak gerah, karena sayap-sayap para Malaikat menanungi bumi maka malam itu sejuk, bahkan siangnya juga masih berbekas sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.

Terakhir, mari ambil alih bersahabat dengan malam yang mulia ini, meski tidak mudah untuk mendapatkannya, secara maksimal memang harus dimulai dan ditunggu dari awal Ramadhan, aktivitas yang baik serta hasil yang maksimal adalah yang bisa dilakukan secara ontime efektif dan efisienin.


Siapay menabung uang jauh hari sebelumnya pasti membuka hasil dengan jumlah yang besar, siapa yang mendaki gunung dipagi hari pasti sampai sebelum sore, namun jika sudah sampai pada hari ini apakah kita rela melepas begitu saja karena menganggap ibadah musiman tidak menuai hasil karena mengejar target ? tentu tidak! 

Percayalah beramal di penghujung masanya tetap membuahkan hasil meski tak sebanyak yang mereka peroleh di awal waktu. Bill Gates sosok yang pernah menduduki rekor orang terkaya di dunia dalam ungkapannya “Better late then never” “ Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Wallahu A’lam Bis Shawab.


Komentar