Penyakit Hati Ambisi Popularitas
Ambisi Popularitas
Oleh : Taubatan Nasuha, M.Pd
Hidup di era media bukan berarti semua bebas diposting tanpa memikirkan akibat buruk dari yang kita posting, baik efek buruk terhadap diri sendiri maupun pada orang lain. di mana-mana orang memburu yang namanya popularitas, atau keterkenalan. Karena dianggap kalau bisa ngetop hidup akan lebih enak terutama urusan nyari duit.
Tanpa disadari, suka dipuji dan dikenal itu telah berubah menjadi satu penyakit yang merusak. Kadang atas nama demi viral ada yang rela melakukan apapun meski harus kehilangan rasa malu dan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara.
Ada banyak di era kontemporer ini kita temui beagam manusia yang rela melakukan hal-hal yang ekstrim, ekstrim, over, dan teramat gila-gilaan demi meraih popularitas, sebut saja mau viral dadakan. Bahkan jika suatu pencapaian tidak menuai pujian, seakan belum lengkap sebelum diselebrasikan di publik terbuka, yang lebih memprihatinkan lagi banyak youtuber, tiktoker, publik figur sengaja dan rela membuat konten-konten negatif dengan harapan viral secepat kilat, kritikan netizen bukan lagi sebagai ajang perbaikan sikap, tetapi berubah menjadi kebanggaan diri.
Pepatah Arab mengatakan:
ﺑﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺰﻡ ﻟﻴﺸﺘﻬﺮ
“Dia sengaja mengencingi sumur Zam-zam agar bisa terkenal.”
Nah, hari ini kiasan pepatah itu bukan lagi terfokus ke Air Zam-zam saja tetapi merebak ke semua situasi dan kondisi, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi semua Negara berlomba² mengumbar kegilaan sikap demi memperoleh popularitas, bukankah sahabat-sahabat Rasulullah SAW, menyembunyikan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan? Seperti Wais Al-Qorni, kebaikannya tidak dikenal dan tidak diketahui di bumi bahkan di tempat ia tinggal dia dikenal hanyalah sebagai manusia biasa, ternyata baktinya yang luar biasa terhadap ibunya ia sangat dikenal di langit, Para Malaikat iri dan cemburu akan ketulusan kebaikan yang ia lakukan merawat ibunya. Popularitasnya tidak untuk manusia tetapi Malaikat menyebut-nyebut namanya di langit sana.
Padahal, dalam tuntunan agama, memburu pujian dan keterkenalan adalah termasuk akhlak mazmumah, Ingin dipuji dan terkenal dalam kebaikan saja itu tidak baik, apalagi keinginan viral dalam keburukan dan melibatkan sikap negatif, Hadits, Rasulullah ﷺ bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ
“Jauhilah oleh kalian suka dipuji, karena dengan pujian itukitu kalian seakan disembelih.” (HR. Ahmad)
Juga diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwasanya ada seseorang yang yang berlebihan memuji laki-laki di hadapan Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda :
وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ مِرَارًا
"Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu". Kalimat ini diucapkan oleh Beliau berulang kali.”
Al imam Munawi rahimahullah menjelaskan :
لِما فيه من الآفة في دين المادح والممدوح، وسمّاه: ذبحاً، لأنه يُميت القلب فيخرُجُ من دينه، وفيه ذبحٌ للممدوح فإنه يَغُرّه بأحواله ويُغريه بالعُجب والكِبْر
“Karena senang dipuji itu akan menjadi penyakit bagi agama orang yang memuji ataupun yang dipuji. Disebut oleh Nabi ﷺ sebagai “disembelih”, karena ini akan mematikan hati, sehingga mati pula agamanya. Juga orang yang dipuji seperti disembelih, karena ia akan tertipu dengan sifat ujub dan sombong.”[1]
Al imam Ibnu Bathal rahimahulah berkata :
لم يأمن على الممدوح العُجْب؛ لظنِّه أنه بتلك المنزلة، فربَّما ضيَّع العمل والازدياد من الخير؛ اتِّكالاً على ما وُصف به
“Hal ini karena pujian menyebabkan orang yang dipuji tidak akan selamat dari terjena penyakit ujub, ia mengira telah sampai pada kedudukan seperti isi pujian. Dan bisa jadi orangyang dipuji terhenti dari amal atau menambah dari berbuat kebaikan. Karena ia sudah mengira sampai di posisi pujian yang disifatkan kepadanya.”[2]
Sebaliknya, tuntunan agama ini mengajarkan agar kita menjadi hamba yang menjauhi segala hiruk pikuk dunia sanjung menyanjung dan keterkenalan, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.” (HR. Muslim)
Nasihat Ulama kepada yang suka dipuji,
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
إن قدرت على أن لا تعرف فافعلㅤㅤ
“Jik engkau mampu untuk tidak dikenal, maka lakukan itu.”[3]
Al imam Ibrahim An Nakha’i rahimahullah berkata :
كفى فتنة للمرء أن يشار إليه بالأصابع في دين أو دنيا إلا من عصمه الله
“Cukuplah sebagai fitnah bagi seseorang, ketika jari-jari menunjuk padanya dalam masalah agama atau masalah dunia, kecuali orang-orang yang Allah selamatkan.”[4]
Al imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan:
إياك والشهرة؛ فما أتيت أحدًا إلا وقد نهى عن الشهرة
“Jauhilah oleh kalian dari menyukai popularitas. Tidaklah aku menemui satu guru pun, kecuali mereka melarang cinta popularitas.”[5]
Al imam Bisyr bin Al Harits rahimahullah mengatakan:
مَا اتَّقَى اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ
“Tidak akan bisa bertakwa kepada Allah, orang yang cinta popularitas.”[6]
Beliau juga berkata :
ما أعرفُ رجلاً أحبَّ أن يُعرَفَ إلا ذهبَ دينُه وافتُضَحَ أمرُه
“Tidaklah kuketahui seseorang yang lebih senang agar dirinya dikenal, melainkan akan sirna agamanya dan terkuak keadaannya.”[7]
Imam Ghazali rahimahullah berkata :
ما صدق الله من أحب الشهرة
“Tidak bisa jujur seseorang kepada Allah mereka yang menyukai popularitas.”[8]
Sebuah nasehat dari yang dinisbahkan kepada imam Syatibi rahimahullah mengatakan:
آخر الأشياء نزولا من قلوب الصالحين : حب السلطة والتصدر
“Hal yang paling terakhir terlepas dari hatinya orang-orang shalih adalah cinta kekuasaan dan popularitas.”[9]
Dengan nasehatnya ini seakan beliau mengatakan, jika ada ulama yang gila kekuasaan dan keterkenalan, nyaris tidak ada lagi kebaikan yang ia miliki, karena kebaikan yang lain telah hilang lebih dahulu.
𝗧𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 popularitas
Imam Hamad menceritakan tentang gurunya, imam Ayyub :
كنت أمشي معه يعني أيوب فيأخذ في طرق إني لأعجب كيف يهتدي لها؛ فراراً من الناس أن يُقال: هذا أيوب
“Aku pernah membersamai guruku Ayyub, maka ia berjalan dengan cara yang membuatku ta’jub dalam mengikutinya. Yakni ia berusaha menghindar dari orang-orang agar tidak ada yang mengatakan kepadanya : Ini Ayyub.”[10]
Imam Ahmad rahimahullah berkata :
أريد أن أكون في شعب بمكة؛ حتى لا أُعرف، وقد بليت بالشهرة
“Ingin rasanya aku tinggal di kampung terpencil yang ada di Makkah hingga aku tidak dikenal. Sungguh sekarang aku ditimpa musibah keterkenalan.”[11]
Ketika imam Ahmad dieluk-elukkan orang banyak, maka beliau berkata :
ليته لا يكون استدراجاً
“Celaka, semoga ini bukan istidraj untukku.”[12]
Imam Ghazali menyebutkan riwayat tentang imam Khalid bin Ma’dan :
أنه كان إذا كثرت حلقته قام مخافة الهرة
bahwa beliau jika halaqahnya sudah terlalu banyak orang yang menghadirinya justru meninggalkannya (membuat halaqadh di tempat lain) karena takunya beliau kepada keterkenalan.”[13]
Dikisahkan bahwa suatu ketika Ibnu Muhairiz masuk ke sebuah toko untuk membeli pakaian. Penjualnya menaikkan harga baju tersebut, lalu tetangga toko tersebut berkata kepadanya :
ويحكَ هذا ابنُ محيريزٍ.. ضَع له
“Celaka kamu, beliau ini adalah Ibnu Muhairiz, Berikan padanya…”
Mendengar ini bukannya senang, Ibnu Muhairiz pun segera menarik tangan anaknya, lalu berkata :
اذهبْ بِنا، إنما جئتُ لأشتَريَ بمالِي لا بديِني
“Ayo kita pergi saja dari sini. Sesungguhnya saya belanja dengan hartaku, bukan dengan agamaku.”[14]
Lalu beliau pun pergi dan meninggalkan toko tersebut.
*Larangan pujian berlebihan dan ambisi popularitas*
Namun demikian jangan kita lantas salah paham, menganggap orang yang terkenal itu tidak baik atau memuji orang klaim mutlak dilarang dalam Islam.
Keterkenalan itu bukan hal yang buruk, karena nyatanya banyak orang shalih yang terkenal. Demikian juga bukan berarti dipuji dan memuji itu terlarang, karena kita ketahui para Nabi dan orang-orang shalih mereka dipuji-puji dan disanjung oleh umat dan mereka juga memuji orang lain yang memang layak untuk dipuji.
Imam Al Ghazali mengatakan :
فالمذموم طلب الشهرة, فأما وجودها من جهة الله سبحانه من غير تكلف من العبد فليس بمذموم.
“Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”[15]
*Obat Penyakit Hati*
Suka pujian, gila sanjungan, pengen dikenal dan selalu ingin disebut dan ditokohkan adalah salah satu penyakit yang berbahaya. Sudah pasti seorang mukmin yang ingin selamat dunia dan akhiratnya harus berusaha untuk mengobatinya.
Al imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyebutkan diantara cara mengobati penyakit ini :
حب الجاه من المهلكات فيجب علاجه وإزالته عن القلب, ومن فهم الآخرة...صغر الجاه من عينيه, إلا أن ذلك إنما يصغر في عين من ينظر إلى الآخرة, كأنه يشاهدها, ويستحقر العاجلة, ويكون الموت كالحاصل بين يديه,...ويتفكر في الأخطار التي يستهدف لها أرباب الجاه, فإن كل ذي جاه محسود, ومقصود بالإيذاء, وخائف على الدوام على جاهه...
“Cinta pujian dan popularitas merupakan penyakit yang mematikan yang harus segera disembuhkan dari hati seseorang. Siapa yang telah memahami hakikat akhirat, maka akan menjadi remeh baginya popularitas.
Demikianlah, keinginanan untuk terkenal bisa dilemahkan dengan mengingat akhirat. Seakan-akan akhirat itu bisa ia saksikan. Membayangkan dekatnya ajal dan kematian yang sudah ada di hadapannya.
Lalu ia merenungkan puncak pencapaian dari sebuah popularitas (yang tidak ada apa-apa di sana). Bahkan setiap pemilik kepopuleran akan didengki. Oraang lain akan berusaha mencelakainya. Lalu diapun akan terus menerus dalam ketakutan dalam kepopulerannya...”
اللهم إنا نعوذ بك من العُجب والرياء وحب الظهور، وضيق الصدور، وظُلمة القبور، والخزي يوم البعث والنشور.
Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari penyakit ujub, riya’ dan ingin dikenal. Kami juga berlindung kepadamu dari sempitnya dada, gelapnya alam kubur dan kerugian pada hari kebangkitan dan perhimpunan.”
Glosarium: Terkenal di semua kalangan bukanlah hal yang dilarang dalam agama, begitu juga mendapat pujian ketika kita memperoleh satu pencapaian, sebagai manusia yang butuh motivasi itu wajar-wajar saja dan boleh dilakukan. Tetapi jangan sampai pujian dari sesama menjadi tujuan utama, dan jangan sampai faktor yang membuat viral karena ada unsur-unsur negatif, sikap, konten-konten yang tidak masuk akal sehingga disorot oleh semua netizen, sehingga popularitasnya bukan karena prestasi, namun karena sensasi. Pujian hanyalah milik Allah, dan kembali kepada Allah SWT.
📜Wallahu a'lam
___________
[1] Faidh al Qadir (3/129)
[2] Fath al Bari (10/477)
[3] Ihya Ulumuddin (3/277)
[4] Az Zuhd libni Surri, (2/442)
[5] Siyar A’lamin Nubala (7/260)
[6] Siyar A’lamin Nubala (10/476)
[7] Hilyatul Auliya (8/355)
[8] Ihya al Ulumuddin (3/276)
[9] Al maktaba.o*g/book/31888/12356
[10] Siyar A’lam Nubala (10/476)
[11] Siyar A’lam Nubala (11/211)
[12] Siyar A’lam Nubala (11/211)
[13] Ihya Ulumuddian (3/276)
[14] Hilyatul Auliya (2/166)
[15] Ihya Ulumuddin (3/278)
Komentar
Posting Komentar