Tazkiyatun Nafs (Nirmala Jiwa)

Oleh: Taubatan Nasuha, M.Pd

Jiwa adalah potensi bathin manusia yg melahirkan kesadaran diri, yakni kemampuan manusia dalam bersikap, berfikir, dan bertindak dengan sengaja, sadar, dan bertanggung jawab!

Jiwa _(nafs)_ memiliki 3 (tiga) komponen yg saling bersinergi dan berkolaborasi secara spesifik, yakni al-'Aqal, al-Hawa' dan al-Qolbu.

• *Al-'Aqal* befungsi untuk mengikat  persepsi-persepsi _(i'tiqal)_ dari apa yg didengar, dilihat, dan dirasakan oleh perasaan (fuad) dari tak tahu sesuatu apapun menjadi tahu (QS. An-Nahl:78)

• *Al-Hawa* atau hasrat diri, keinginan, atau dorongan manusia untuk melakukan sesuatu atas apa yang disukai _(syahwat) ( QS.Ali -Imran:14)

• *Al-Qolbu* berfungsi untuk memahami dengan rasa _(fuad)_ atas macam2 kilah akal dan dorongan hawa nafsu.

Hati adalah raja atas jiwa, bila rusak hatinya maka rusak segala orientasi jiwa.

Seorang ahli hikmah pernah berkata; *"Berkilahlah dengan akal sejauh apa kita pandai berkilah, tapi hati mesti tenang dalam keyakinan atas taqdir (Irkif le Nifla)

Inilah bentuk jiwa yang tenang (QS. al-Fajr:27-30)

Esensi kecerdasan dan kemampuan kita dlm berfikir, bersikap, dan bertindak berawal dari kekuatan jiwa, bukan dari kemampuan otak!

Andai saja!

Andai saja kita menduga bahwa kemampuan kita berfikir berawal dari otak, maka binatang juga berotak, lalu bisakah kita mengatakan binatang itu berfikir?

Binatang tidak bisa memfungsikan pendengaran, penglihatan, dan perasaannya untuk mengikat persepsi-persepsi, mengumpulkan data dan fakta, lalu merangkainya menjadi paradigma. Binatang tidak dinamis dalam tumbuh kembang jiwanya (QS. Al&A'raf:179)

Ibnu Qoyyin al-Jauzi, dalam kitabnya "Tazkiyatun Nufus", menyebutkan bahwa jiwa adalah jisimnya ruh.

Lalu apa bentuk dan komponen dari "jisimnya ruh" itu?

Beliau tergagap dan tergugup soal ini, lalu melanjutkan saja literasinya dengan membahas penyakit qolbu.

Bagaimana bisa membahas ttg mensucikan jiwa bila makna jiwa itu sendiri belum dipahami secara tuntas.

Ternyata Ibnu Qoyyim hanya membahas _"Tazkiyatulqalbu"_ 

Mengkritisi ulama bukan bermaksud menghinanya, melecehkan, atau menolak pendapatnya!

Mengkritis ulama adalah jalan bagi kita untuk melajutkan pemikiran mereka dengan keilmuan yang dinamis dan bertanggung jawab!

Jiwa tak cukup hanya di sucikan _(tazkiyah),_ tapi mesti di lanjutkan dengan mendidik _(tarbiyah)._ 

_"Tazkiyah wa Tarbiyatun Nafs"_ 

Inilah metode yang dilakukan oleh Rasulullah.SAW (QS.Al-Baqarah:151).


*Apa yg disucikan dan apa yg dididik dari jiwa?* 

• Yang disucikan adalah tabiat fujur dlm jiwa yg mendominasi _(fujuraha)._ 

• Yang dididik adalah tabiat baik dlm jiwa yg berpotensi untuk tumbuh dan berkembang _(taqwaha) (QS. Asy-Syams:7-10)

Al-'Aqal, al-Hawa, dan al-Qolbu adalah 3 (tiga) komponen jiwa yang membangun kesadaran diri, sengaja, sadar, dan bertanggung jawab atas perintah dan larangan!

Orang yang tidur sama dengan orang mati, tak mampu memfungsikan jiwanya dengan sengaja dan sadar (jiwanya ditahan), maka ia tdk diminta pertanggung jawaban (QS. Ar-Rum:53)

Wallahu A'lam bisshawab.

Komentar